Pages

▼

Jumat, 23 Januari 2015

JANGAN SISAKAN NASI, NANTI NASINYA NANGIS



JANGAN SISAKAN NASI, NANTI NASINYA NANGIS

Pasti kalian sering dengar tentang  mitos ‘ jangan sisakan nasi, nanti nasinya nangis, dari dulu sampe sekarang perkataan itu masih digunakan para orang tua untuk anaknya yang masih kecil untuk tidak menyisakan nasi saat makan. Kalau dipikir-pikir nasi yang tersisa tidak ada hubungannya dengan nasi itu menangis. Ungkapan ‘jangan sisakan nasi, nanti nasinya nangis itu tidak benar karena nasi bukan benda hidup yang bisa nangis seperti manusia, Pastinya alasan ini dijadikan bahan untuk menakut-nakuti anak, bahwa jika makan nasi tidak habis maka nasinya bisa nangis.
Dan biasanya anak kecil akan takut jika nasi akan menangis disebabkan ulahnya yang tidak mau makan. Mungkin ungkapan yang dimaksud adalah supaya kita tidak membuang-buang nasi yang kita makan dan makan dengan secukupnya. Nasi adalah rezeki untuk kita makan dari Allah SWT karena masih banyak orang yang masih membutuhkan nasi. Nasi berasal dari beras yang dipanen oleh para petani dengan susah payah.
Kita umpamakan saja jika seseorang membuang satu butir nasi setiap kali makan, berapa kilogram beras yang sudah dibuang percuma di Indonesia setiap kali makan?. Misalkan Jika rakyat Indonesia berjumlah 300 juta orang, berarti ada 300juta butir. Jika kita andaikan 1 kg beras itu sama dengan 10.000 butir beras, maka setiap kali makan pagi, siang dan malam akan terbuang 30.000 kg (30 ton).  Mungkin kita salah satu orang yang bisa memakan nasi karena diluar masih ada orang yang sangat sulit mencari sesuap nasi, maka dari itu mulai sekarang jangan siasakan nasi saat makan.
Jangan sisakan nasi, nanti nasinya nangis menurut saya itu hanyalah mitos pada orang tua dahulu, mau percaya atau tidak, sebenarnya semua itu kembali kepada diri sendiri. Tetapi, seringkali orang justru terbius kata mitos, dan menganggapnya sebagai sebuah misteri yang makin lama makin bikin penasaran. Padahal, kalau dipikir dengan logika hal-hal yang disebut mitos itu ada penjelasannya. Sebagai manusia berpikir (homo sapiens), adalah konyol jika Anda masih percaya dengan mitos.
SUMBER


Tidak ada komentar:

Posting Komentar