ASAL MULA TARI COKEK BANTEN
Sejarah
munculnya Tari Cokek berawal dari adanya pentas hiburan yang diadakan oleh para
juragan tanah etnis Tionghoa yang tinggal di kota Tangerang. Dalam pentas seni
itu, Tan Sio Kek, yang merupakan salah satu juragan tanah yang cukup di segani
di Tangerang, dengan mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud
partisipasinya dalam pesta hiburan rakyat itu. Salah satu alat musik yang mereka bawa yakni Rebab Dua
Dawai. Atas permintaan Tan Sio Kek, musisi itu kemudian memainkan alat musik
yang mereka bawa dari daratan Cina. Pada saat yang bersamaan, grup musik milik
Tan Sio Kek juga memainkan beberapa alat musik tradisional dari daerah
Tangerang, seperti seruling, gong serta kendang.
Lantunan nada dari perpaduan alat musik daratan Cina dan
Tangerang itu kemudian dikenal dengan nama musik Gambang Kromong. Untuk
meramaikan suasana pesta, Tan Sio Kek menghadirkan tiga orang wanita. Sesuai
permintaan Tan Sio Kek, mereka menari mengikuti alunan musik yang dimainkan
para musisi. Para tamu yang menghadiri pesta menyebut ketiga penari itu Cokek.
Konon, Cokek merupakan sebutan bagi anak buah Tan Sio Kek. Sejak saat itulah,
masyarakat Tangerang di provinsi Banten mulai mengenal nama tari Cokek. Tari Cokek dimainkan oleh tiga
orang penari wanita. Kini, pertunjukan Tari Cokek seringkali dimainkan oleh 5
hingga 7 orang penari wanita dan beberapa orang laki laki sebagai pemain musik
dan sebagian ikut mengiringi tarian wanita. Sehelai selendang yang mengikat di
pinggang penari perempuan merupakan salah satu ornamen baju utama para penari
wanita dipadu kebaya warna mencolok.
Keistimewaan
tari Cokek terlihat pada gerakan tubuh penarinya yang bergerak perlahan-lahan,
sehingga mudah untuk diikuti. Tarian diawali dengan formasi memanjang, dimana
antara satu penari dengan penari lainnya saling
bersebelahan. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju
mundur dengan diikuti rentangan tangan setinggi bahu. Rentangan tangan itu
disesuaikan dengan gerakan kaki yang bergerak maju mundur tersebut. Gerakan ini
kemudian dilanjutkan dengan ajakan kepada para penonton untuk ikut bergabung
menari. Ajakan kepada para penonton dilakukan dengan cara mengalungkan
selendang ke leher sambil menarik maju ke depan. Ajakan tersebut umumnya
ditujukan kepada para tamu undangan yang terdiri dari para pemuka masyarakat
dan orang kaya setempat. Proses menari bersamaan ini dilakukan berdekatan
antara penari dengan penonton, tetapi tidak saling bersentuhan. Selain gerakannya
yang pelan dan mudah untuk diikuti, tari cokek juga memiliki keistimewaan
lainnya yaitu busana penarinya. Busana yang dipakai para penari cokek adalah
kebaya yang terbuat dari kain sutra yang berwarna hijau, merah, kuning dan
ungu. Warna ini dapat bertambah mencolok ketika terkena pancaran sinar lampu. Kilaunya
busana tari cokek ini menambah indahnya nuansa pada warna itu. selain keindahan
busananya, rambut penari yang dikepang dan dipasangi sanggul juga menambah
kecantikan para penari itu.
SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar