Rabu, 10 Desember 2014

tugas filsafat kemandirian belajar dan Eksistensialisme

Mat 3/A-01



KEMANDIRIAN BELAJAR PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME

            Filsafat adalah suatu ilmu yang mengkaji mengenai dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada pendekatan-pendekatan filsafat sehingga akan menghasilkan teori-toeri kependidikan yang berguna pada masalah-masalah kependidikan itu sendiri. Filsafat hanya didapat didalam dan diantara manusia yang berfikir. kebanyakan manusia bukan ahli fikir tetapi bukan berarti manusia itu tidak berfikir, cara berfikir mereka tidak sama dengan filsuf-filsuf, manusia hidup dan mati dengan tidak pernah memikirkan masalah-masalah filsafat yang besar atau tidak pernah membaca soal itu. Jadi setiap manusia itu bukan filsuf tetapi setiap filsuf adalah manusia.Manusia mungkin takjub dengan kenyataan sekelilingnya dan dapat memasukan  dirinya kedalam ketakjuban itu. Ketakjuban manusia adalah pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan itu tidak ada habisnya dan jawaban selalu berisi pertanyaan baru.
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna, manusia diberi akal dan fikiran, mereka hidup didunia mempunyai banyak tujuan, tetapi kita hidup didunia tidak tahu bahwa kita berada didunia ini untuk apa dan bagaimana kita bisa hidup didunia ini. Manusia barulah dikatakan manusia, jika sudah melihat semua keadaan sekelilingnya, bertanya pada dirinya sendiri dan kita harus berusaha mengenali diri kita sendiri serta pengetahuan tentang diri kita sendiri, jika kita sudah memahami diri kita sendiri maka kita bisa memahami apa yang ada didunia ini dan mengerti apa tujuan kita hidup didunia ini, Manusia menemukan dunia itu karena dia adalah makhluk yang bertindak, karena dia berurusan dengan yang ada disekelilingnya. Dunia adalah keseluruhan segala benda, yang bersangkutan dengan manusia atau yang bersangkutan manusia itu pada dirinya. untuk memahami semua itu ada salah satu aliran filsafat yang membahas tentang bagaimana cara manusia hidup didunia yaitu filsafat eksistensialisme. Dalam aliran eksistensialisme ini beranggapan bahwa benda-benda yang ada di sekeliling kita itu terletak begitu saja tanpa ada hubungannya dengan manusia, namun akan berarti apabila memang benda tersebut dihubungkan dengan manusia. Tidak hanya benda yang menurut aliran eksistensialisme terletak begitu saja, namun manusia pun berada dibumi seperti terdampar, karena manusia tidak mengetahui mengapa dia ada di dunia ini, dengan tujuan apa manusia  diciptakan. Eksistensialisme pada awalnya berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard (Denmark: 1813-1855). Inti masalahnya ialah: apa itu kehidupan manusia? Apa tujuan dari kegiatan manusia? Bagaimana kita menyatakan keberadaan manusia? Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang kongkret terhadap persoalan arti “berada” mengenai manusia, (Sobri, 2013).
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Husserl (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani. Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard, Nietzsche dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
eksistensialisme adalah filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Eksistensi adalah cara berada manusia di dunia. Cara berada manusia di dalam dunia berbeda dengan cara beradanya benda-benda material. Keberadaan benda-benda tersebut tidak sadar akan dirinya sendiri, dan juga tidak ada komunikasi satu sama lainnya. Tidak demikian ber-ada-nya manusia di dunia ini. Manusia berada bersama dengan manusia, dan benda-benda itu berarti karena manusia. Manusia adalah individu yang bebas. Bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual. Manusia tidak lain adalah bagaimana dia menjadi dirinya sendiri dan menyadari adanya orang lain, sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya.
Didalam filsafat eksistensialisme juga memiliki beberapa aliran diantaranya, yaitu: yang pertama bersifat atheistic (tidak bertuhan) bahwa beberapa orang eksistensialisme beranggapan manusia itu suatu makhluk yang sama sekali harus bergantung pada dirinya sendiri dan yang kedua bersifat theistic (bertuhan) bahwa manusia beranggapan mereka adalah suatu makhluk bergantung pada sesuatu yang lain(Tuhan) dan mendasari dirinya atas salah satu bentuk kepercayaan, kepercayaan religi atau kepercayaan yang spesifik-filsafat. Selain itu, ada hal yang menarik dari eksistensialisme, bahwa manusia hendaknya menjadi manusia yang autentik, yang jujur dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya secara bertanggung jawab dengan rasionalitas dan perasaannya, tidak mencari justifikasi dan legitimasi dari sesuatu yang seakan-akan berada di luar dirinya, tetapi sebenarnya adalah kehendak diri yang dibalut norma sosial atau norma agama.
   pemahaman eksistensi terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam bertindak. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita, melainkan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun untuk menentukan pilihan yang terbaik itu yang paling sulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang kan menerima akibat dari perbuatannya. Filsafat eksistensialisme memiliki hubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia, maka dari itu filsafat eksistensialisme sangat penting dalam pendidikan dan kemandirian belajar.
Dalam filsafat eksistensialisme  menekankan pada pembelajaran yang individualitas. Kemandirian belajar dalam filsafat eksistensialisme ini adalah dimana siswa ditekankan untuk hidup mandiri dan berani melakukan apapun dari dirinya sendiri, disini siswa didorong agar mampu mengembangkan semua potensi yang mereka punya dalam dirinya sendiri, setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya sendiri.
               Filsafat ini juga berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog ialah percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara “aku” dengan “engkau” . sedangkan lawan dialog ialah suatu “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, memandang orang lain sebagai objek. Menurut Buber, kebanyakan pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya.
         Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa, harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru, tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada siswa, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri. Didalam proses belajar mengajar juga perlu adanya kemandirian belajar pada siswa.
          Dalam filsafat ini Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa sehingga siswa mampu berpikir relatif melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti siswa dituntut untuk mandiri dalam mengerjakan tugas apapun sendiri. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi ialah metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Guru hanya membantu siswa mendapatkan pengalaman yang luas sehingga dapat menjadikan pelajaran untuk mewujudkan eksistensinya sebagai manusia. Sehingga guru berperan sebagai pembimbing, guru tidak boleh memaksakan kehendak  pribadi ataupun tujuan-tujuan yang merupakan keinginan pribadi dari pendidik itu sendiri.

Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya sendiri. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, serta  membimbingnya untuk memilih alternatif. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi kepada manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Disini siswa harus menjadi actor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Dalam aliran eksistensialisme manusia banyak diberikan kebebasan, begitupun penerapannya dalam pendidikan aliran eksistensialisme ini memberi kebebasan kepada individu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan kegiatan belajar sendiri, karena menurut para eksistensialis tujuan pendidikan yang paling utama adalah untuk membantu siswa secara individu. Guru hanya membimbing siswa ketika siswa menghadapi masalah untuk memberi pemahaman kepada siswa mengenai masalah yang sedang dihadapi siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan masalahnya.
             Didalam filsafat eksistensialisme ini juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya dalam aliran ini manusia terlalu diberi kebebasan, sehingga mungkin saja ada beberapa orang yang menyalah gunakan kebebasan tersebut. Jika memang manusia diberikan kebebasan seharusnya ada pedoman yang membatasi kebebasan yang seperti apa yang bisa kita pilih sebagai salah satu wujud cara manusia melanjutkan eksistensinya. Dan juga kebebasan itu harus terarahkan bukan hanya kebebasan yang tidak terarahkan dengan baik. Dengan demikian filsafat eksistensialisme adalah memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu, berpengaruh terhadap kemandirian belajar pada proses belajar mengajar siswa serta sangat penting bagi pendidikan agar peserta didik agar dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya serta manusia itu sendirilah yang dapat menentukan baik atau buruknya dirinya, yaitu kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk.


SUMBER




Prof.Dr R.F.Beerling.1961. Filsafat Dewasa Ini. Jakarta: Balai Pustaka





0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates