Mat 3/A-01
KEMANDIRIAN
BELAJAR PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME
Filsafat adalah
suatu ilmu yang
mengkaji mengenai dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada
pendekatan-pendekatan filsafat sehingga akan menghasilkan teori-toeri
kependidikan yang berguna pada masalah-masalah kependidikan itu sendiri. Filsafat hanya didapat didalam dan diantara manusia yang
berfikir. kebanyakan manusia bukan ahli fikir tetapi bukan berarti
manusia itu tidak berfikir, cara berfikir mereka tidak sama dengan
filsuf-filsuf, manusia hidup dan mati dengan tidak pernah memikirkan
masalah-masalah filsafat yang besar atau tidak pernah membaca soal itu. Jadi
setiap manusia itu bukan filsuf tetapi setiap filsuf adalah manusia.Manusia
mungkin takjub dengan kenyataan sekelilingnya dan dapat memasukan dirinya kedalam ketakjuban itu. Ketakjuban
manusia adalah pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan itu tidak ada habisnya dan
jawaban selalu berisi pertanyaan baru.
Manusia
diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna, manusia diberi akal dan
fikiran, mereka hidup didunia mempunyai banyak tujuan, tetapi kita hidup
didunia tidak tahu bahwa kita berada didunia ini untuk apa dan bagaimana kita
bisa hidup didunia ini. Manusia barulah dikatakan manusia, jika sudah melihat
semua keadaan sekelilingnya, bertanya pada dirinya sendiri dan kita harus
berusaha mengenali diri kita sendiri serta pengetahuan tentang diri kita
sendiri, jika kita sudah memahami diri kita sendiri maka kita bisa memahami apa
yang ada didunia ini dan mengerti apa tujuan kita hidup didunia ini, Manusia
menemukan dunia itu karena dia adalah makhluk yang bertindak, karena dia
berurusan dengan yang ada disekelilingnya. Dunia adalah keseluruhan segala
benda, yang bersangkutan dengan manusia atau yang bersangkutan manusia itu pada
dirinya. untuk memahami semua itu ada salah satu aliran filsafat yang membahas
tentang bagaimana cara manusia hidup didunia yaitu filsafat eksistensialisme.
Dalam aliran eksistensialisme ini beranggapan bahwa benda-benda yang ada di
sekeliling kita itu terletak begitu saja tanpa ada hubungannya dengan manusia,
namun akan berarti apabila memang benda tersebut dihubungkan dengan manusia.
Tidak hanya benda yang menurut aliran eksistensialisme terletak begitu saja,
namun manusia pun berada dibumi seperti terdampar, karena manusia tidak
mengetahui mengapa dia ada di dunia ini, dengan tujuan apa manusia
diciptakan. Eksistensialisme pada awalnya berasal dari pemikiran Soren
Kierkegaard (Denmark: 1813-1855). Inti masalahnya ialah: apa itu kehidupan
manusia? Apa tujuan dari kegiatan manusia? Bagaimana kita menyatakan keberadaan
manusia? Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang kongkret terhadap
persoalan arti “berada” mengenai manusia, (Sobri, 2013).
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat
Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi
yang dikembangkan oleh Husserl (1859-1938).
Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche.
Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan
“Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat
itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya).
Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa
menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen
pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya
adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”.
Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk
merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Gerakan
eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan
dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard, Nietzsche
dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik
pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu
menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan
untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada
bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan
berkembang.
Eksistensialisme adalah
aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya
yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak
benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak
benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif,
dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya
benar.
eksistensialisme
adalah filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada
eksistensi. Eksistensi adalah cara berada manusia di dunia. Cara berada manusia
di dalam dunia berbeda dengan cara beradanya benda-benda material. Keberadaan
benda-benda tersebut tidak sadar akan dirinya sendiri, dan juga tidak ada
komunikasi satu sama lainnya. Tidak demikian ber-ada-nya manusia di dunia ini.
Manusia berada bersama dengan manusia, dan benda-benda itu berarti karena
manusia. Manusia adalah individu yang bebas. Bebas untuk melakukan dan
mendefinisikan dirinya sendiri secara individual. Manusia tidak lain adalah
bagaimana dia menjadi dirinya sendiri dan menyadari adanya orang lain, sehingga
dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan
orang lain atau lingkungannya.
Didalam
filsafat eksistensialisme juga memiliki beberapa aliran diantaranya, yaitu: yang
pertama bersifat atheistic (tidak bertuhan) bahwa beberapa orang eksistensialisme
beranggapan manusia itu suatu makhluk yang sama sekali harus bergantung pada
dirinya sendiri dan yang kedua bersifat theistic (bertuhan) bahwa
manusia beranggapan mereka adalah suatu makhluk bergantung pada sesuatu yang
lain(Tuhan) dan mendasari dirinya atas salah satu bentuk kepercayaan,
kepercayaan religi atau kepercayaan yang spesifik-filsafat. Selain itu, ada hal yang
menarik dari eksistensialisme, bahwa manusia hendaknya menjadi manusia yang
autentik, yang jujur dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya secara
bertanggung jawab dengan rasionalitas dan perasaannya, tidak mencari
justifikasi dan legitimasi dari sesuatu yang seakan-akan berada di luar
dirinya, tetapi sebenarnya adalah kehendak diri yang dibalut norma sosial atau
norma agama.
pemahaman eksistensi terhadap nilai, menekankan kebebasan
dalam bertindak. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita, melainkan suatu
potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun
untuk menentukan pilihan yang terbaik itu yang paling sulit.
Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang kan menerima akibat dari
perbuatannya. Filsafat eksistensialisme memiliki
hubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama
lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar
manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan
eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan
oleh manusia, maka dari itu filsafat eksistensialisme sangat penting dalam
pendidikan dan kemandirian belajar.
Dalam
filsafat eksistensialisme menekankan
pada pembelajaran yang individualitas. Kemandirian belajar dalam filsafat
eksistensialisme ini adalah dimana siswa ditekankan untuk hidup mandiri dan
berani melakukan apapun dari dirinya sendiri, disini siswa didorong agar mampu
mengembangkan semua potensi yang mereka punya dalam dirinya sendiri, setiap
individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan
pemenuhan dirinya sendiri.
Filsafat ini juga berpengaruh
terhadap proses belajar mengajar. Konsep belajar mengajar eksistensialisme
dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog
ialah percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan
subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara “aku” dengan
“engkau” . sedangkan lawan dialog ialah suatu “paksaan”, dimana seseorang
memaksakan kehendaknya kepada orang lain, memandang orang lain sebagai objek.
Menurut Buber, kebanyakan pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah
pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru
menjadi penguasanya.
Dalam
proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan.
Untuk menjadikan hubungan guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka
pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa, harus menjadi bagian dari
pengalaman pribadinya, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pribadi
dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru, tidak lagi merupakan sesuatu
yang diberikan kepada siswa, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi
miliknya sendiri. Didalam proses belajar mengajar juga perlu adanya kemandirian
belajar pada siswa.
Dalam filsafat ini Guru harus mampu
membimbing dan mengarahkan siswa sehingga siswa mampu berpikir relatif melalui
pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti siswa dituntut untuk mandiri dalam
mengerjakan tugas apapun sendiri. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang
luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi ialah
metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak
interpretasi guru tentang pelajaran. Guru hanya membantu siswa mendapatkan
pengalaman yang luas sehingga dapat menjadikan pelajaran untuk mewujudkan
eksistensinya sebagai manusia. Sehingga guru berperan sebagai pembimbing, guru
tidak boleh memaksakan kehendak pribadi ataupun tujuan-tujuan yang merupakan
keinginan pribadi dari pendidik itu sendiri.
Guru
hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya sendiri. Guru
menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain,
serta membimbingnya untuk memilih
alternatif. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi kepada
manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Disini siswa harus menjadi actor
dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Dalam aliran eksistensialisme manusia
banyak diberikan kebebasan, begitupun penerapannya dalam pendidikan aliran
eksistensialisme ini memberi kebebasan kepada individu siswa untuk mencapai
tujuan pembelajaran dengan kegiatan belajar sendiri, karena menurut para
eksistensialis tujuan pendidikan yang paling utama adalah untuk membantu siswa
secara individu. Guru hanya membimbing siswa ketika siswa menghadapi masalah
untuk memberi pemahaman kepada siswa mengenai masalah yang sedang dihadapi
siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan masalahnya.
Didalam
filsafat eksistensialisme ini juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya
dalam aliran ini manusia terlalu diberi kebebasan, sehingga mungkin saja ada
beberapa orang yang menyalah gunakan kebebasan tersebut. Jika memang manusia diberikan
kebebasan seharusnya ada pedoman yang membatasi kebebasan yang seperti apa yang
bisa kita pilih sebagai salah satu wujud cara manusia melanjutkan
eksistensinya. Dan juga kebebasan itu harus terarahkan bukan hanya kebebasan
yang tidak terarahkan dengan baik. Dengan demikian filsafat eksistensialisme
adalah memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu, berpengaruh terhadap kemandirian
belajar pada proses belajar mengajar siswa serta sangat penting bagi pendidikan
agar peserta didik agar dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya serta manusia itu sendirilah yang
dapat menentukan baik atau buruknya dirinya, yaitu kebenaran terletak pada
pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik
bagi pribadinya maka itulah yang buruk.
SUMBER
Prof.Dr R.F.Beerling.1961. Filsafat Dewasa Ini. Jakarta: Balai
Pustaka
0 komentar:
Posting Komentar