Rev.Mat-01/3a
KEMANDIRIAN
BELAJAR DAN EKSISTENSIALISME
Filsafat adalah
suatu ilmu yang
mengkaji mengenai dasar-dasar pendidikan yang menitikberatkan pada
pendekatan-pendekatan filsafat sehingga akan menghasilkan teori-toeri
kependidikan yang berguna pada masalah-masalah kependidikan itu sendiri.
Filsafat hanya didapat didalam dan diantara manusia yang berfikir. kebanyakan
manusia bukan ahli fikir tetapi bukan berarti manusia itu tidak berfikir, cara
berfikir mereka tidak sama dengan filsuf-filsuf, manusia hidup dan mati dengan
tidak pernah memikirkan masalah-masalah filsafat yang besar atau tidak pernah
membaca soal itu. Jadi setiap manusia itu bukan filsuf tetapi setiap filsuf
adalah manusia. Manusia mungkin takjub dengan kenyataan sekelilingnya dan
dapat memasukan dirinya kedalam ketakjuban itu. Ketakjuban manusia adalah
pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan itu tidak ada habisnya dan jawaban selalu
berisi pertanyaan baru. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna,
manusia diberi akal dan fikiran, mereka hidup didunia mempunyai banyak tujuan,
tetapi kita hidup didunia tidak tahu bahwa kita berada didunia ini untuk apa
dan bagaimana kita bisa hidup didunia ini.
Manusia barulah dikatakan manusia, jika sudah melihat semua keadaan sekelilingnya, bertanya pada dirinya sendiri dan kita harus berusaha mengenali diri kita sendiri serta pengetahuan tentang diri kita sendiri, jika kita sudah memahami diri kita sendiri maka kita bisa memahami apa yang ada didunia ini dan mengerti apa tujuan kita hidup didunia ini. Manusia menemukan dunia itu karena dia adalah makhluk yang bertindak, karena dia berurusan dengan yang ada disekelilingnya. Dunia adalah keseluruhan segala benda, yang bersangkutan dengan manusia atau yang bersangkutan manusia itu pada dirinya. untuk memahami semua itu ada salah satu aliran filsafat yang membahas tentang bagaimana cara manusia hidup didunia yaitu filsafat eksistensialisme. Dalam aliran eksistensialisme ini beranggapan bahwa benda-benda yang ada di sekeliling kita itu terletak begitu saja tanpa ada hubungannya dengan manusia, namun akan berarti apabila memang benda tersebut dihubungkan dengan manusia. Tidak hanya benda yang menurut aliran eksistensialisme terletak begitu saja, namun manusia pun berada dibumi seperti terdampar, karena manusia tidak mengetahui mengapa dia ada di dunia ini, dengan tujuan apa manusia diciptakan.
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Husserl (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard, Nietzsche dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang. Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut dasein. Da berarti disana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti disana, ditempatnya. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadar akan tempatnya. Dia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, melibatkan diri. Dengan demikian, manusia sadar akan dirinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang dirinya sendiri. Ia berdiri sebagai aku atau pribadi.
Manusia barulah dikatakan manusia, jika sudah melihat semua keadaan sekelilingnya, bertanya pada dirinya sendiri dan kita harus berusaha mengenali diri kita sendiri serta pengetahuan tentang diri kita sendiri, jika kita sudah memahami diri kita sendiri maka kita bisa memahami apa yang ada didunia ini dan mengerti apa tujuan kita hidup didunia ini. Manusia menemukan dunia itu karena dia adalah makhluk yang bertindak, karena dia berurusan dengan yang ada disekelilingnya. Dunia adalah keseluruhan segala benda, yang bersangkutan dengan manusia atau yang bersangkutan manusia itu pada dirinya. untuk memahami semua itu ada salah satu aliran filsafat yang membahas tentang bagaimana cara manusia hidup didunia yaitu filsafat eksistensialisme. Dalam aliran eksistensialisme ini beranggapan bahwa benda-benda yang ada di sekeliling kita itu terletak begitu saja tanpa ada hubungannya dengan manusia, namun akan berarti apabila memang benda tersebut dihubungkan dengan manusia. Tidak hanya benda yang menurut aliran eksistensialisme terletak begitu saja, namun manusia pun berada dibumi seperti terdampar, karena manusia tidak mengetahui mengapa dia ada di dunia ini, dengan tujuan apa manusia diciptakan.
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Husserl (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard, Nietzsche dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang. Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut dasein. Da berarti disana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti disana, ditempatnya. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadar akan tempatnya. Dia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, melibatkan diri. Dengan demikian, manusia sadar akan dirinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang dirinya sendiri. Ia berdiri sebagai aku atau pribadi.
Eksistensialisme
adalah filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal kepada
eksistensi. Eksistensi adalah cara berada manusia di dunia. Cara berada manusia
di dalam dunia berbeda dengan cara beradanya benda-benda material. Keberadaan
benda-benda tersebut tidak sadar akan dirinya sendiri, dan juga tidak ada
komunikasi satu sama lainnya. Tidak demikian beradanya manusia di dunia ini.
Eksistensialisme adalah
aliran filsafat yang
pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas
tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang
benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa
kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Manusia berada bersama dengan
manusia, dan benda-benda itu berarti karena manusia. Manusia adalah individu
yang bebas. Bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara
individual. Manusia tidak lain adalah bagaimana dia menjadi dirinya sendiri dan
menyadari adanya orang lain, sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang
berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya. Ada beberapa ciri eksistensialisme,
yaitu, selalu melihat cara manusia berada, eksistensi diartikan secara dinamis
sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu
realitas yang terbuka dan belum selesai, serta berdasarkan pengalaman yang
konkret. Eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan
keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang
dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara
menempatkan dirinya.
Menurut eksistensialisme, ada 2 jenis filsafat tradisional, yakni filsafat spekulatif dan filsafat skeptif. Filsafat skepekulatif menyatakan bahwa pengalaman tidak banyak berpengaruh pada individu, sedangkan filsafat skeptif manyatakan bahwa semua pengalaman itu adalah palsu, tidak ada sesuatu yang dapat kita kenal dari realita. Menurut eksistensialis, konsep metafisika adalah sementara. Didalam filsafat eksistensialisme juga memiliki beberapa aliran pemikiran diantaranya, yaitu: yang pertama bersifat atheistic (tidak bertuhan) bahwa beberapa orang eksistensialisme beranggapan manusia itu suatu makhluk yang sama sekali harus bergantung pada dirinya sendiri dan yang kedua bersifat theistic (bertuhan) bahwa manusia beranggapan mereka adalah suatu makhluk bergantung pada sesuatu yang lain(Tuhan) dan mendasari dirinya atas salah satu bentuk kepercayaan, kepercayaan religi atau kepercayaan yang spesifik-filsafat. Selain itu, ada hal yang menarik dari eksistensialisme, bahwa manusia hendaknya menjadi manusia yang autentik, yang jujur dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya secara bertanggung jawab dengan rasionalitas dan perasaannya, tidak mencari justifikasi dan legitimasi dari sesuatu yang seakan-akan berada di luar dirinya, tetapi sebenarnya adalah kehendak diri yang dibalut norma sosial atau norma agama. Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam bertindak. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita, melainkan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun untuk menentukan pilihan yang terbaik itu yang paling sulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang akan menerima akibat dari perbuatannya. Filsafat eksistensialisme memiliki hubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan).
Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia, maka dari itu filsafat eksistensialisme sangat penting dalam pendidikan. Dalam filsafat eksistensialisme menekankan pada pembelajaran yang individualitas. Kemandirian belajar dalam filsafat eksistensialisme ini adalah dimana siswa ditekankan untuk hidup mandiri dan berani melakukan apapun dari dirinya sendiri, disini siswa didorong agar mampu mengembangkan semua potensi yang mereka punya dalam dirinya sendiri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya sendiri. Didalam dunia pendidikan, cara belajar secara aktif harus ditempuh untuk mendidik siswa agar berpikir mandiri. Kualitas kemandirian adalah ciri yang sangat dibutuhkan manusia dimasa depan. Pengajar berusaha mengembangkan belajar dengan caranya sendiri dan mereka berusaha menemukannya sendiri. Sikap seorang pengajar dalam pembelajaran yang membuka peluang untuk pelajar memperoleh gerak atau ruang kerja seluas-luasnya dalam waktu kerja dan caranya, ditandai dengan tidak menonjolkan peranan mengajar dalam kelas. Jadi ,kemandirian belajar adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melakukan aktivitas belajar dengan cara mandiri atas dasar motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi tertentu sehingga bisa dipakai untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Sehingga dalam kemandirian belajar, seorang siswa harus proaktif serta tidak tergantung pada guru. Filsafat ini juga berpengaruh terhadap proses belajar mengajar.
Konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog ialah percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara “aku” dengan “engkau” . sedangkan lawan dialog ialah suatu “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, memandang orang lain sebagai objek. Menurut Buber, kebanyakan pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya.
Menurut eksistensialisme, ada 2 jenis filsafat tradisional, yakni filsafat spekulatif dan filsafat skeptif. Filsafat skepekulatif menyatakan bahwa pengalaman tidak banyak berpengaruh pada individu, sedangkan filsafat skeptif manyatakan bahwa semua pengalaman itu adalah palsu, tidak ada sesuatu yang dapat kita kenal dari realita. Menurut eksistensialis, konsep metafisika adalah sementara. Didalam filsafat eksistensialisme juga memiliki beberapa aliran pemikiran diantaranya, yaitu: yang pertama bersifat atheistic (tidak bertuhan) bahwa beberapa orang eksistensialisme beranggapan manusia itu suatu makhluk yang sama sekali harus bergantung pada dirinya sendiri dan yang kedua bersifat theistic (bertuhan) bahwa manusia beranggapan mereka adalah suatu makhluk bergantung pada sesuatu yang lain(Tuhan) dan mendasari dirinya atas salah satu bentuk kepercayaan, kepercayaan religi atau kepercayaan yang spesifik-filsafat. Selain itu, ada hal yang menarik dari eksistensialisme, bahwa manusia hendaknya menjadi manusia yang autentik, yang jujur dan memutuskan apa yang baik bagi dirinya secara bertanggung jawab dengan rasionalitas dan perasaannya, tidak mencari justifikasi dan legitimasi dari sesuatu yang seakan-akan berada di luar dirinya, tetapi sebenarnya adalah kehendak diri yang dibalut norma sosial atau norma agama. Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam bertindak. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita, melainkan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun untuk menentukan pilihan yang terbaik itu yang paling sulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang akan menerima akibat dari perbuatannya. Filsafat eksistensialisme memiliki hubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan).
Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia, maka dari itu filsafat eksistensialisme sangat penting dalam pendidikan. Dalam filsafat eksistensialisme menekankan pada pembelajaran yang individualitas. Kemandirian belajar dalam filsafat eksistensialisme ini adalah dimana siswa ditekankan untuk hidup mandiri dan berani melakukan apapun dari dirinya sendiri, disini siswa didorong agar mampu mengembangkan semua potensi yang mereka punya dalam dirinya sendiri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya sendiri. Didalam dunia pendidikan, cara belajar secara aktif harus ditempuh untuk mendidik siswa agar berpikir mandiri. Kualitas kemandirian adalah ciri yang sangat dibutuhkan manusia dimasa depan. Pengajar berusaha mengembangkan belajar dengan caranya sendiri dan mereka berusaha menemukannya sendiri. Sikap seorang pengajar dalam pembelajaran yang membuka peluang untuk pelajar memperoleh gerak atau ruang kerja seluas-luasnya dalam waktu kerja dan caranya, ditandai dengan tidak menonjolkan peranan mengajar dalam kelas. Jadi ,kemandirian belajar adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melakukan aktivitas belajar dengan cara mandiri atas dasar motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi tertentu sehingga bisa dipakai untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Sehingga dalam kemandirian belajar, seorang siswa harus proaktif serta tidak tergantung pada guru. Filsafat ini juga berpengaruh terhadap proses belajar mengajar.
Konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog ialah percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara “aku” dengan “engkau” . sedangkan lawan dialog ialah suatu “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, memandang orang lain sebagai objek. Menurut Buber, kebanyakan pendidikan merupakan paksaaan. Anak dipaksa menyerah pada kemauan guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasanya.
Dalam proses belajar
mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan
hubungan guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan
diberikan kepada siswa, harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya,
sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pribadi dengan pribadi. Pengetahuan
yang ditawarkan guru, tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada siswa,
melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri. Didalam
proses belajar mengajar juga perlu adanya kemandirian belajar pada siswa. Dalam
filsafat ini Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa sehingga siswa
mampu berpikir relatif melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti siswa dituntut
untuk mandiri dalam mengerjakan tugas apapun sendiri. Guru hadir dalam kelas
dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata
pelajaran. Diskusi ialah metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa
memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Guru hanya
membantu siswa mendapatkan pengalaman yang luas sehingga dapat menjadikan
pelajaran untuk mewujudkan eksistensinya sebagai manusia. Sehingga guru
berperan sebagai pembimbing, guru tidak boleh memaksakan kehendak pribadi
ataupun tujuan-tujuan yang merupakan keinginan pribadi dari pendidik itu
sendiri.
Guru hendaknya memberi
semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya sendiri. Guru menanyakan tentang
ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, serta membimbingnya
untuk memilih alternatif. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi
kepada manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Disini siswa harus
menjadi actor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Dalam aliran
eksistensialisme manusia banyak diberikan kebebasan, begitupun penerapannya
dalam pendidikan aliran eksistensialisme ini memberi kebebasan kepada individu
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan kegiatan belajar sendiri,
karena menurut para eksistensialis tujuan pendidikan yang paling utama adalah
untuk membantu siswa secara individu. Guru hanya membimbing siswa ketika siswa
menghadapi masalah untuk memberi pemahaman kepada siswa mengenai masalah yang
sedang dihadapi siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan masalahnya.
Didalam filsafat
eksistensialisme ini juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya dalam aliran
ini manusia terlalu diberi kebebasan, sehingga mungkin saja ada beberapa orang
yang menyalahgunakan kebebasan tersebut. Jika memang manusia diberikan
kebebasan seharusnya ada pedoman yang membatasi kebebasan yang seperti apa yang
bisa kita pilih sebagai salah satu wujud cara manusia melanjutkan
eksistensinya. Dan juga kebebasan itu harus terarahkan bukan hanya kebebasan
yang tidak terarahkan dengan baik. Dengan demikian filsafat eksistensialisme
adalah memfokuskan pada
pengalaman-pengalaman individu, berpengaruh terhadap kemandirian
belajar dalam proses belajar mengajar siswa serta sangat penting bagi
pendidikan agar peserta didik
dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya sendiri
serta manusia itu sendirilah yang dapat menentukan baik atau buruknya dirinya,
yaitu kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya
apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk.
SUMBER
http://myfilsafat.wordpress.com/category/aliran-eksistensialisme/
http://nurwatiazzah.blogspot.com/2011/12/filsafat-pendidikan-eksistensialisme.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme
http://www.informasi-pendidikan.com/2013/07/kemandirian-belajar.html
http://tenggooscar62-kailingataku.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_10.html
Prof.Dr R.F.Beerling.1961. Filsafat Dewasa Ini. Jakarta: Balai Pustaka
0 komentar:
Posting Komentar