SYIRIK
POLITIK: INSPIRASI MUSA MELAWAN FIR’AUN
Syirik dari segi bahasa artinya
mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan syirik disebut musyrik. Seorang
musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk (manusia maupun benda) yang
seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah seperti menuhankan
sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya,
menaatinya, atau melakukan perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali
hanya kepada Allah SWT. Syirik politik itu sendiri adalah mengikuti seorang
pemimpin yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT atau mentauhidkan
Allah dalam mulkiyahnya bermakna kita mengesakan Allah terhadap pemilikan,
pemerintahan dan penguasanya terhadap alam ini.
Allah SWT
berfirman yang artinya, “Wahai umat manusia, sembahlah (Allah) Rabb yang telah
menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia itu
lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap
dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari langit sehingga mampu
mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezki untuk kalian maka janganlah
kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahui.”
(QS.AlBaqarah:21-22).
Kepemimpinan pada Masa Fir’aun
Kepemimpinan terburuk itu pada masa Fir’aun sampai-sampai
menjadi orang yang paling dibenci oleh malaikat jibril. Bahkan kebencian
terhadapnya sejajar dengan kebenciannya terhadap iblis laknatullah.
Dalam kitab tafsir At-Thabari disebutkan “ jibril
berkata: wahai Muhammad, aku tidak marah kepada seseorang dari makhluk Allah,
seperti aku marah kepada dua, salah satunya dari jin yaitu iblis dan yang lain
Fir’aun”
Dalam akhir
hidupnya, Fir’aun mati dalam keadaan tragis, ditenggelamkan di lautan oleh
Allah bersama bala tentaranya ketika mengejar nabi Musa. Mati tragis itu bagian
dari kelengkapan sejarah buruk pemimpin terburuk bersama bala tentaranya.
Kepemimpinan yang terburuk dalam contoh ini karena sikapnya yang sombong,
congkak dan tiran serta dhalim. Akibatnya menjerumuskan mereka dalam kerusakan,
mati tragis dan mendapatkan adzab kubur dan siksa di neraka kelak di akhirat.
Namun kepemimpinan yang buruk bisa juga karena tidak tegas, ragu-ragu, tidak
bijak, tidak tahu saat yang tepat untuk memutuskan suatu perkara.
ikut larut atau bahkan terlibat dalam masalah yang jadi
persoalan besar di masyarakatnya dan aneka kekurangan lainnya.
Kebijakan Fir’aun
Salah satu kebijakan dari raja Fir’aun adalah memaksa
semua penduduk untuk menyembahnya atau dengan kata lain Fir’aun mengangkat
dirinya sebagai tuhan. Sebagai raja kejam, Fir’aun memiliki para pembatu dari
kalangan ahli nujum/dukun. Diantara dukun itu, ada satu ahli nujum yang memberi
masukan kepada Fir’aun bahwa kelak akan lahir seorang lelaki yang akan
menghancurkan kekuasaannya. Maka sejak saat itu, Fir’aun mulai mengambil
kebijakan untuk membunuh semua bayi laki-laki tanpa pandang bulu. Setiap wanita
yang mengandung di data oleh Fir’aun, tidak ada satu pun wanita hamil yang
lepas dari pengawasan kerajaan.
Tirani Kuasa pada zaman
Fir’aun
Tirani
dimaknai sebagai kekuasaan yang dipergunakan sewenang-wenang atau suatu Negara
yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang suka bertindak sehendak
hatinya. Tirani kuasa pada zaman Fir’aun adalah tirani politik. Dalam tirani
ini pembahasan ini terfokus pada kajian tiga tokoh besar terdahulu yang dalam
al Qur’an kita kenal dengan sebutan Fir’aun, Haman dan Qarun pada zaman nabi
Musa. Dalam eksplorai ini Syahrur menyatakan ketignya memiliki spesinifikasi
kekuasaan masing-masing.
Fir’aun
merepresentasikan kekuasaan politik, Haman memegang kekuasaan religi dan Qarun
sebagai pemilik model(borjuis). Dalam tataran prakteknya dan ini yang lebih membahayakan,
Fir’aun berkoalisi dengan kedua penguasa tersebut dan dapat mengaturnya sesuai
dengan keinginannya. Dalam al Qur’an kata Fir’aun disebutkan sebanyak 76 kali
dan tidak disebutkan dengan nama aslinya. Absennya nama asli tersebut bagi
syahrur, mengindikasikan bahwa siapapun melakukan hal yang serupa maka ia dapat
dianalogikan sebagai Fir’aun. Dalam konteks keindonesiaan kasus ini pernah
terjadi pada rezim orde baru Soeharto, dimana ia bersekutu dengan militer dan
membuat sebuah rezim totaliter. Kemudian dalam pengaplikasiannya pada masalah
keagamaan ia mempunyai sebuah institusi yang bernama MUI dan ia beserta
keluarga dan kroninya juga menumpuk kekayaan sehingga harta menjadi terpusat
pada perorangan(Qarun).
Nabi Musa melawan Fir’aun
Nabi Musa a.s adalah golongan Bani Israil,
lahir di negeri Mesir dalam kekuasaan raja yang lalim, Fir’aun namanya. Fir’aun
adalah seorang raja yang tidak berperi kemanusiaan, ia minta dipertuhankan dan
barangsiapa yang tidak bertuhan kepadanya, pasti mendapatkan siksaan diluar
kemanusiaan.
Firman Allah dalam surah Asy- syu’ara-a 29, yang artinya:
“Fir’aun berkata: sesungguhnya jika kamu
menyembah Tuhan selain saya, benar-benar saya akan menjadikan kamu salah
seorang yang dipenjara”.
Pada suatu hari seorang ahli nujum datang menghadap Fir’aun bahwa
menurut perhitungan tak lama lagi lahir seorang bayi dari bangsa israil yang
kelak akan menjadi musuh dan menjatuhkan kekuasaan-nya. Akan hal ini Fir’aun
menjadi gentar dan takut kalau-kalau kerajaannya benar-benar akan menjadi hancur..
Saat itu juga dia memberikan perintah agar membunuh bayi laki-laki yang lahir
dari kalangan bangsa israil.
Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan
ingatlah ketika kami selamatkan kamu dari keluarga Fir’aun
(pengikut-pengikutnya) mereka menimpakan
siksaan yang amat besar kepadamu, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki
dan membiarkan anak-anakmu yang perempuan, demikian itu adalah cobaan yang
besar dari Allah”.(QS. Al-Baqarah:50)
Demikian kelaliman Fir’aun yang menugaskan para petugasnya untuk membunuh bayi laki-laki
yang baru lahir tanpa kesalahan dan dosa di sembelihnya secara misterius. Pada
saat itu banyak sekali bayi yang menjadi korban keganasan Fir’aun sedangkan
bayi perempuan dibiarkan hidup karena bayi laki-laki sangat
mengkhawatirkan kelak akan meruntuhkan
dan menggantikannya sebagai raja di Mesir. Fir’aun mengadakan kegiatan adu domba memecahkan persatuan
rakyat dengan tujuan Fir’aun ingin menguasai jiwa manusia yang artinya hidup
dan matinya rakyat tetap dalam kekuasaannya.
Keganasan Fir’aun
belum juga kunjung padam,
sehingga pelacakan pembunuhan bayi laki-laki yang baru lahir dari golongan Bani Israil masih
terus berjalan lancar. Sekalipun dengan ketelitian dan akal cerdik manusia
untuk melaksanakan rencana, Allah lebih baik dan tiada sedikitpun tiada yang
menghalang-halangi. Maka dari itu Allah memberikan karunia kepada golongan Bani
Israil yang tertindas dan dijadikannya pemimpin dan mewarisi bumi Mesir.
Musa dilahirkan oleh pasangan suami istri Imran dan Yukabad. Bagitu
mengetahui anaknya laki-laki Imran dan Yukabad panik. Jika tidak disembunyikan
akan terbunuh oleh Fir’aun. Allah memberikan ilham kepada ibu Nabi Musa itu
membuat peti tahan air dan Nabi Musa dihanyutkan ke sungai Nil dengan peti
tersebut.
Ternyata peti itu ditemukan oleh putri raja Fir’aun dan langsung dibawa
kehadapan ibu mereka yaitu istri Fir’aun. Awalnya Fir’aun menolaknya tapi atas
bujukan Istrinya akhirnya Fir’aun menerima Nabi Musa menjadi anak angkatnya.
Kemudian Musa diambil oleh keluarga Fir’aun, akhirnya menjadi musuh dan
kesusahan bagi mereka. sungguh Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya amat
bersalah. Ibu Nabi Musa khawatir dan takut jangan-jangan anaknya ditemukan oleh
Fir’aun dan dibunuhnya. Maka dari itu ibu Nabi Musa menyuruh anak perempuannya
untuk mencari Nabi Musa. Maka pergilah saudara perempuan Nabi Musa yang bernama
Maryam, keluar untuk mendapatkan berita tentang adiknya itu.
Setelah Nabi Musa dipungut oleh keluarga Fir’aun, mereka mancari orang
untuk menysuinya. Anehnya setiap wanita yang melamar dan menyussuinya, Nabi
Musa tidak mau. Hal ini disampaikan kepada ibu Nabi Musa, maka ibu Nabi Musa
pun dating untuk menyusuinya, maka barulah bayi Nabi Musa mau menyusuinya.
Firman Allah surah Al-Qashash ayat 12-13,yang artinya:
“Kami enggankan hati Musa untuk
menyusu kepada wanita-wanita yang disediakan Fir’aun, kemudian datang saudari
Musa menghadap raja, seraya berkata: maukah baginda saya tunjukkan seorang
perempuan yang akan menyusukan anak ini dan memelihara serta mendidiknya? Maka
kami kembalikan Musa itu kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tiada lagi
duka cita dan supaya ia tahu, bahwa perjanjian Allah itu benar, tetapi kebanyakn
mereka itu tidak mengerti”.
Musa diserahkan kepda Yukabad sampai selesai masa menyusuinya. Yukabad
mendapatkan upah yang cukup besar. Sesudah usai masa menyusu, musa dikembalikan
ke istana Fir’aun. Ia dididik sebagai mana anak raja lainnya. Ia berpakaian
seperti Fir’aun dan mengendarai kendaraan Fir’aun sebagai Musa bin Fir’aun.
Setelah Musa dewasa Allah menganugerahkan pangkat kenabian dan ilmu
pengetahuan.
Pada suatu hari Nabi Musa berjalan-jalan di kota. Ia melihat orang Qubti
berkelahi. Karena keadaannya tidak seimbang Musa membela orang Israil. Qubti
tidak mau diajak damai. Musa menjadi marah orang itu langsung dipukulnya.
Sekali tempeleng orang itu mati. Ada seorang saksi yang melaporkan Nabi Musa
kepada Fir’aun. Setelah Fir’aun tahu bahwa Nabi Musa membela bangsa Israil ia
segera memerintahkan orang untuk menangkap Musa. Musa melarikan diri ke negeri
Madyan bertujuan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah karena telah membunuh
orang. Allah mengampuni doanya dan dia diampuni.
Kebengisan Fir’aun semakin menjadi-jadi. Para pengikut
Nabi Musa disiksa diluar batas agar menjadi kafir dan mengikuti perintah
Fir’aun. Nabi Musa kemudian berdoa agar Allah menimpakan azab kepada Fir’aun
dan para pengikutnya. Doanya dikabulkan. Mesir dilanda kemarau panjang sehingga
banyak panen yang gagal, tanaman dan
pepohonan banyak yang mati. Disusul badai topan yang merobohkan
rumah-rumah mereka, Jutaan belalang didatangkan menyerbu hewan dan perkebunan
juga kutu dan katak. Terakhir semua air di Negeri Mesir mendadak berubah
menjadi darah. Wabah penyakit melanda dimana mana, setiap bayi laki-laki
bangsa Mesir mendadak mati tidak terkecuali anak-anak Fir’aun sendiri
termasuk putra mahkotanya. Dalam keadaan demikian mereka datang kepada Nabi
Musa agar berdoa kepada tuhan untuk
mencabut azab itu.
Nabi musa mau berdoa
setelah Fir’aun berjanji akan membiarkan kaun Bani Israil untuk pergi
meninggalkan Mesir bersama Musa. Namun
setelah azab itu berhenti Fir’aun mengingkari janji dan mulai menyiksa kaum
Bani Israil. Dalam keadaan demikian datanglah wahyu dari Allah agar Musa
mengajak kaumnya pergi dari Mesir, mereka berangkat secara diam-diam. Namun,
Fir’aun mengetahuinya dan langsung menyusul Nabi Musa.
Didekat laut
merah Nabi Musa beserta
pengikutnya terkepung oleh Fir’aun dan bala tentara Fir’aun. Nabi Musa
kebingungan karena dikanan kiri dan belakang penuh dengan musuh, sedangkan
dihadapannya lautan merah yang terbentang luas telah menentangnya. Lalu Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa untuk memukulkan
tonkatnya kepermukaan laut dan laut itu tebelah sehingga Nabi
Musa dan para penyikutinya menyebrangi lautan dengan selamat.
Sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya
terus mengejar, tetapi oleh Allah ditenggelamkan dilautan itu.
Hikmah Politik dari Kisah Fir’aun dan Musa
Dari kisah Fir’aun hikmah yang dapat kita ambil, yaitu kalau mempunyai
kekuasaan jangan semena-mena terhadap
rakyatnya dan jangan memperbudak rakyat yang lebih rendah derajatnya dan
tindakan Fir’aun yang memperbudak dan mengatasnamakan dirinya Tuhan itu tidak
boleh di ikuti karena semua itu di benci oleh Allah dan itu merupakan perbuatan
musyrik. Jadi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kita harus menghormati dan
menghargai serta tidak membeda- bedakan rakyat yang rendah dan tinggi
derajatnya.
SUMBER
MB.Rahimsyah.AR, KisahTeladan 25 Nabi dan
Rasul,Surabaya: Cv. Cahaya
Agency
Syamsuri, Baidlowi, Riwayat Ringkas 25 Rasul, Surabaya: Apollo Lestari
Al- Qur’an
Agency
Syamsuri, Baidlowi, Riwayat Ringkas 25 Rasul, Surabaya: Apollo Lestari
Al- Qur’an
Tim penyusun, akidah akhlak al-hikmah(Surabaya:
akik pustaka,2008)
Fanani, Dr.Muhyar, melihat syahrur
membaca tirani dalam islam(pustaka pelajar, 2007)
0 komentar:
Posting Komentar