Kamis, 22 Januari 2015

SYIRIK POLITIK: INSPIRASI MUSA MELAWAN FIR’AUN


SYIRIK POLITIK: INSPIRASI MUSA MELAWAN FIR’AUN

Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan syirik disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk (manusia maupun benda) yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah seperti menuhankan sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, menaatinya, atau melakukan perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT. Syirik politik itu sendiri adalah mengikuti seorang pemimpin yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT atau mentauhidkan Allah dalam mulkiyahnya bermakna kita mengesakan Allah terhadap pemilikan, pemerintahan dan penguasanya terhadap alam ini.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai umat manusia, sembahlah (Allah) Rabb yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia itu lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari langit sehingga mampu mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezki untuk kalian maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahui.” (QS.AlBaqarah:21-22).

Kepemimpinan pada Masa Fir’aun

Kepemimpinan terburuk itu pada masa Fir’aun sampai-sampai menjadi orang yang paling dibenci oleh malaikat jibril. Bahkan kebencian terhadapnya sejajar dengan kebenciannya terhadap iblis laknatullah.

Dalam kitab tafsir At-Thabari disebutkan “ jibril berkata: wahai Muhammad, aku tidak marah kepada seseorang dari makhluk Allah, seperti aku marah kepada dua, salah satunya dari jin yaitu iblis dan yang lain Fir’aun”

Dalam akhir hidupnya, Fir’aun mati dalam keadaan tragis, ditenggelamkan di lautan oleh Allah bersama bala tentaranya ketika mengejar nabi Musa. Mati tragis itu bagian dari kelengkapan sejarah buruk pemimpin terburuk bersama bala tentaranya. Kepemimpinan yang terburuk dalam contoh ini karena sikapnya yang sombong, congkak dan tiran serta dhalim. Akibatnya menjerumuskan mereka dalam kerusakan, mati tragis dan mendapatkan adzab kubur dan siksa di neraka kelak di akhirat. Namun kepemimpinan yang buruk bisa juga karena tidak tegas, ragu-ragu, tidak bijak, tidak tahu saat yang tepat untuk memutuskan suatu perkara.

ikut larut atau bahkan terlibat dalam masalah yang jadi persoalan besar di masyarakatnya dan aneka kekurangan lainnya.

Kebijakan Fir’aun

Salah satu kebijakan dari raja Fir’aun adalah memaksa semua penduduk untuk menyembahnya atau dengan kata lain Fir’aun mengangkat dirinya sebagai tuhan. Sebagai raja kejam, Fir’aun memiliki para pembatu dari kalangan ahli nujum/dukun. Diantara dukun itu, ada satu ahli nujum yang memberi masukan kepada Fir’aun bahwa kelak akan lahir seorang lelaki yang akan menghancurkan kekuasaannya. Maka sejak saat itu, Fir’aun mulai mengambil kebijakan untuk membunuh semua bayi laki-laki tanpa pandang bulu. Setiap wanita yang mengandung di data oleh Fir’aun, tidak ada satu pun wanita hamil yang lepas dari pengawasan kerajaan.

Tirani Kuasa pada zaman Fir’aun

        Tirani dimaknai sebagai kekuasaan yang dipergunakan sewenang-wenang atau suatu Negara yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang suka bertindak sehendak hatinya. Tirani kuasa pada zaman Fir’aun adalah tirani politik. Dalam tirani ini pembahasan ini terfokus pada kajian tiga tokoh besar terdahulu yang dalam al Qur’an kita kenal dengan sebutan Fir’aun, Haman dan Qarun pada zaman nabi Musa. Dalam eksplorai ini Syahrur menyatakan ketignya memiliki spesinifikasi kekuasaan masing-masing.

           Fir’aun merepresentasikan kekuasaan politik, Haman memegang kekuasaan religi dan Qarun sebagai pemilik model(borjuis). Dalam tataran prakteknya dan ini yang lebih membahayakan, Fir’aun berkoalisi dengan kedua penguasa tersebut dan dapat mengaturnya sesuai dengan keinginannya. Dalam al Qur’an kata Fir’aun disebutkan sebanyak 76 kali dan tidak disebutkan dengan nama aslinya. Absennya nama asli tersebut bagi syahrur, mengindikasikan bahwa siapapun melakukan hal yang serupa maka ia dapat dianalogikan sebagai Fir’aun. Dalam konteks keindonesiaan kasus ini pernah terjadi pada rezim orde baru Soeharto, dimana ia bersekutu dengan militer dan membuat sebuah rezim totaliter. Kemudian dalam pengaplikasiannya pada masalah keagamaan ia mempunyai sebuah institusi yang bernama MUI dan ia beserta keluarga dan kroninya juga menumpuk kekayaan sehingga harta menjadi terpusat pada perorangan(Qarun).

Nabi Musa melawan Fir’aun

Nabi Musa a.s adalah golongan Bani Israil, lahir di negeri Mesir dalam kekuasaan raja yang lalim, Fir’aun namanya. Fir’aun adalah seorang raja yang tidak berperi kemanusiaan, ia minta dipertuhankan dan barangsiapa yang tidak bertuhan kepadanya, pasti mendapatkan siksaan diluar kemanusiaan.

Firman Allah dalam surah Asy- syu’ara-a 29, yang artinya:

“Fir’aun berkata: sesungguhnya jika kamu menyembah Tuhan selain saya, benar-benar saya akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjara”.

Pada suatu hari seorang ahli nujum datang menghadap Fir’aun bahwa menurut perhitungan tak lama lagi lahir seorang bayi dari bangsa israil yang kelak akan menjadi musuh dan menjatuhkan kekuasaan-nya. Akan hal ini Fir’aun menjadi gentar dan takut kalau-kalau kerajaannya benar-benar akan menjadi hancur.. Saat itu juga dia memberikan perintah agar membunuh bayi laki-laki yang lahir dari kalangan bangsa israil. 

Allah SWT berfirman yang artinya,  “Dan ingatlah ketika kami selamatkan kamu dari keluarga Fir’aun (pengikut-pengikutnya) mereka  menimpakan siksaan yang amat besar kepadamu, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan anak-anakmu yang perempuan, demikian itu adalah cobaan yang besar dari Allah”.(QS. Al-Baqarah:50)

Demikian kelaliman Fir’aun yang menugaskan  para petugasnya untuk membunuh bayi laki-laki yang baru lahir tanpa kesalahan dan dosa di sembelihnya secara misterius. Pada saat itu banyak sekali bayi yang menjadi korban keganasan Fir’aun sedangkan bayi perempuan dibiarkan hidup karena bayi laki-laki sangat mengkhawatirkan  kelak akan meruntuhkan dan menggantikannya sebagai raja di Mesir. Fir’aun mengadakan  kegiatan adu domba memecahkan persatuan rakyat dengan tujuan Fir’aun ingin menguasai jiwa manusia yang artinya hidup dan matinya rakyat tetap dalam kekuasaannya.

Keganasan  Fir’aun  belum  juga kunjung padam, sehingga pelacakan pembunuhan  bayi  laki-laki yang  baru lahir dari golongan Bani Israil masih terus berjalan lancar. Sekalipun dengan ketelitian dan akal cerdik manusia untuk melaksanakan rencana, Allah lebih baik dan tiada sedikitpun tiada yang menghalang-halangi. Maka dari itu Allah memberikan karunia kepada golongan Bani Israil yang tertindas dan dijadikannya pemimpin dan mewarisi bumi Mesir.

Musa dilahirkan oleh pasangan suami istri Imran dan Yukabad. Bagitu mengetahui anaknya laki-laki Imran dan Yukabad panik. Jika tidak disembunyikan akan terbunuh oleh Fir’aun. Allah memberikan ilham kepada ibu Nabi Musa itu membuat peti tahan air dan Nabi Musa dihanyutkan ke sungai Nil dengan peti tersebut.

Ternyata peti itu ditemukan oleh putri raja Fir’aun dan langsung dibawa kehadapan ibu mereka yaitu istri Fir’aun. Awalnya Fir’aun menolaknya tapi atas bujukan Istrinya akhirnya Fir’aun menerima Nabi Musa menjadi anak angkatnya. Kemudian Musa diambil oleh keluarga Fir’aun, akhirnya menjadi musuh dan kesusahan bagi mereka. sungguh Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya amat bersalah. Ibu Nabi Musa khawatir dan takut jangan-jangan anaknya ditemukan oleh Fir’aun dan dibunuhnya. Maka dari itu ibu Nabi Musa menyuruh anak perempuannya untuk mencari Nabi Musa. Maka pergilah saudara perempuan Nabi Musa yang bernama Maryam, keluar untuk mendapatkan berita tentang adiknya itu.

Setelah Nabi Musa dipungut oleh keluarga Fir’aun, mereka mancari orang untuk menysuinya. Anehnya setiap wanita yang melamar dan menyussuinya, Nabi Musa tidak mau. Hal ini disampaikan kepada ibu Nabi Musa, maka ibu Nabi Musa pun dating untuk menyusuinya, maka barulah bayi Nabi Musa mau menyusuinya.

Firman Allah surah Al-Qashash ayat 12-13,yang artinya:

“Kami enggankan hati Musa untuk menyusu kepada wanita-wanita yang disediakan Fir’aun, kemudian datang saudari Musa menghadap raja, seraya berkata: maukah baginda saya tunjukkan seorang perempuan yang akan menyusukan anak ini dan memelihara serta mendidiknya? Maka kami kembalikan Musa itu kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tiada lagi duka cita dan supaya ia tahu, bahwa perjanjian Allah itu benar, tetapi kebanyakn mereka itu tidak mengerti”.

Musa diserahkan kepda Yukabad sampai selesai masa menyusuinya. Yukabad mendapatkan upah yang cukup besar. Sesudah usai masa menyusu, musa dikembalikan ke istana Fir’aun. Ia dididik sebagai mana anak raja lainnya. Ia berpakaian seperti Fir’aun dan mengendarai kendaraan Fir’aun sebagai Musa bin Fir’aun. Setelah Musa dewasa Allah menganugerahkan pangkat kenabian dan ilmu pengetahuan.

Pada suatu hari Nabi Musa berjalan-jalan di kota. Ia melihat orang Qubti berkelahi. Karena keadaannya tidak seimbang Musa membela orang Israil. Qubti tidak mau diajak damai. Musa menjadi marah orang itu langsung dipukulnya. Sekali tempeleng orang itu mati. Ada seorang saksi yang melaporkan Nabi Musa kepada Fir’aun. Setelah Fir’aun tahu bahwa Nabi Musa membela bangsa Israil ia segera memerintahkan orang untuk menangkap Musa. Musa melarikan diri ke negeri Madyan bertujuan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah karena telah membunuh orang. Allah mengampuni doanya dan dia diampuni. 

         Kebengisan  Fir’aun semakin menjadi-jadi. Para pengikut Nabi Musa disiksa diluar batas agar menjadi kafir dan mengikuti perintah Fir’aun. Nabi Musa kemudian berdoa agar Allah menimpakan azab kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Doanya dikabulkan. Mesir dilanda kemarau panjang sehingga banyak panen yang gagal, tanaman dan  pepohonan banyak yang mati. Disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka, Jutaan belalang didatangkan menyerbu hewan dan perkebunan juga kutu dan katak. Terakhir semua air di Negeri Mesir mendadak berubah menjadi darah. Wabah penyakit melanda dimana mana, setiap bayi  laki-laki  bangsa Mesir mendadak mati tidak terkecuali anak-anak Fir’aun sendiri termasuk putra mahkotanya. Dalam keadaan demikian mereka datang kepada Nabi Musa agar berdoa kepada tuhan  untuk mencabut azab itu.

           Nabi musa mau berdoa setelah Fir’aun berjanji akan membiarkan kaun Bani Israil untuk pergi meninggalkan  Mesir bersama Musa. Namun setelah azab itu berhenti Fir’aun mengingkari janji dan mulai menyiksa kaum Bani Israil. Dalam keadaan demikian datanglah wahyu dari Allah agar Musa mengajak kaumnya pergi dari Mesir, mereka berangkat secara diam-diam. Namun, Fir’aun mengetahuinya dan langsung menyusul Nabi Musa.

        Didekat  laut  merah  Nabi  Musa beserta  pengikutnya terkepung oleh Fir’aun dan bala tentara Fir’aun. Nabi Musa kebingungan karena dikanan kiri dan belakang penuh dengan musuh, sedangkan dihadapannya lautan merah yang terbentang luas telah  menentangnya. Lalu Allah memberi  wahyu kepada Nabi Musa untuk memukulkan tonkatnya kepermukaan laut dan laut itu tebelah sehingga  Nabi  Musa dan  para penyikutinya  menyebrangi lautan dengan selamat. Sedangkan  Fir’aun dan bala tentaranya terus mengejar, tetapi oleh Allah ditenggelamkan dilautan itu.

Hikmah Politik dari Kisah Fir’aun dan Musa

Dari kisah Fir’aun hikmah yang dapat kita ambil, yaitu kalau mempunyai kekuasaan  jangan semena-mena terhadap rakyatnya dan jangan memperbudak rakyat yang lebih rendah derajatnya dan tindakan Fir’aun yang memperbudak dan mengatasnamakan dirinya Tuhan itu tidak boleh di ikuti karena semua itu di benci oleh Allah dan itu merupakan perbuatan musyrik. Jadi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kita harus menghormati dan menghargai serta tidak membeda- bedakan rakyat yang rendah dan tinggi derajatnya.


SUMBER

MB.Rahimsyah.AR, KisahTeladan 25 Nabi dan Rasul,Surabaya:  Cv. Cahaya
       Agency
Syamsuri, Baidlowi,
Riwayat Ringkas 25 Rasul, Surabaya: Apollo Lestari
        Al- Qur’an

Tim penyusun, akidah akhlak al-hikmah(Surabaya: akik pustaka,2008)

Fanani, Dr.Muhyar, melihat syahrur membaca tirani dalam islam(pustaka pelajar, 2007) 





0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates