Sabtu, 24 Januari 2015

AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN KONTRUKTIVISME



AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN KONTRUKTIVISME 
MENURUT VON GLASERSFELD

Filsafat pendidikan merupakan penerapan konsep pemikiran filsafat dapat digunakan sebagai salah satu pedoman. Filsafat dapat dikatakan berbeda dengan ilmu-ilmu khusus, karena tidak menyelami suatu kenyataan tertentu, tetapi mengajukan pertanyaan tentang seluruhnya atau tentang hakekat, asas, prinsip dari kenyataan, tetapi dapat dikatakan bahwa filsafat menyelidiki diri sendiri bahwa ia mempersoalkan diri sendiri , sehingga hal demikian tidak ada pada ilmu apapun juga. Secara fikiran filsafat menyatakan bahwa filsafat selalu mengulangi penegasan mengenai hal dirinya dan kemajuan terhadap dirinya sendiri. Sedikitnya mengenai filsafat, dalam filsafat terdapat beberapa aliran, salah satu aliran kontruktivisme. Disini saya akan membahas tentang aliran kontruktivisme Menurut von Glasersfeld  yang berhubungan dengan aktivitas belajar siswa.
Aliran filsafat konstruktivisme dalam pendidikan menekankan pada keaktifan siswa untuk mengembangkan pengetahuannya, dan bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Siswa akan lebih aktif dan kreatif sehingga mampu berdiri sendiri dalam kehidupan kognitifnya. Kreativitas siswa akan membantunya menjadi orang yang kritis dalam menganalisis suatu hal sebab mereka selalu berfikir, tak hanya menerima saja.  Kontruktivisme  Berasal dari kata “to construct” yang artinya membangun atau menyusun. Menurut Von Glasersfeld (dalam Anggriamurti, 2009) bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu berinteraksi dengan lingkungannya. 

Berkaitan dengan pembelajaran, von Glasersfeld (dalam Yackel, Cobb, Wood, dan Merkel; 2002) menyatakan pandangannya sebagai berikut. Jika mempercayai bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh setiap individu yang belajar, maka pembelajaran menjadi sangat berbeda dengan pembelajaran tradisional yang meyakini pengetahuan ada di kepala guru dan guru harus mencari cara untuk mentransfer pengetahuan tersebut kepada siswa. Pembelajaran menurut konstruktivisme radikal memandang bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh individu. Jadi berdasar informasi yang masuk ke diri siswa, siswa aktif belajar mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman sendiri. Hal ini, pada awal penyerapan pengetahuan, dimungkinkan terjadinya perbedaan konsepsi antar siswa terhadap hasil pengamatan.

Teori kontruktivisme adalah teori yang mengutamakan aspek membangun pengetahuannya sendri, peran guru pada kontruktivisme adalah sebagai fasilitator saja, maksudnya pengajar akan memberikan pengetahuan, saran dan bantuan yang siswa butuhkan, serta sebagai mediator dan teman untuk membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya. Focus utama atau objek dalam teori belajar konstruktivisme adalah keaktifan yang dilakukan oleh peserta didik itu sendiri., siswa disini lebih aktif dari pada guru agar siswa lebih kreatif dalam mengembangkan pengetahuannya sendiri . Tujuan Teori Konstruktivisme, yaitu Menumbuhkan motivasi siswa bahwa belajar merupakan tanggung jawabnya sendiri, Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannnya, Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

Dengan begitu aliran kontruktivisme menurut von Glasersfeld ini membuat aktivitas siswa semakin mandiri dan menambah kreativitas siswa dalam belajar karena mengkontruksi pengalaman-pengalaman yang ia ketahui. Tugas guru utamanya bukan mentransfer pengetahuan tetapi memfasilitasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa memiliki kesempatan aktif belajar dengan cara mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman siswa sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran guru perlu mempertimbang adanya perbedaan tingkat konsepsi siswa terhadap apa yang yang diamati. Dalam memahami suatu konsep sering terjadi konflik kognitif disebabkan oleh adanya problematika perbedaan tingkat konsepsi akibat beragamnya pengalaman siswa. Dalam hal seperti ini, guru perlu membuat kesepakatan-kesepakatan konseptual misalnya melalui diskusi kelas.  

SUMBER




0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates