ASAL MULA UPACARA KASADA
‘GUNUNG BROMO’
Gunung Bromo adalah salah satu tempat wisata yang
banyak dikunjungi oleh masyarakat dunia. Gunung Bromo merupakan gunung berapi
yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur.
Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya
sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas
permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan,
Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara
lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer
persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis
tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan
daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
Gunung Bromo juga sebagai gunung suci, Bagi penduduk Bromo, suku Tengger,
Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat
Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di
sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke
puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap
bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut
penanggalan Jawa. Disini akan dibahas ‘Asal Mula Upacara Kasada ‘.Kasodo adalah
upacara tahunan yang selalu diselenggarakan oleh masyarakat asli Tengger.
Upacara ini selalu diadakan setiap bulan Desember atau Januari. Kasodo atau
Kasada merupakan upacara ucap syukur yang dilakukan oleh masyarakat Tengger
kepada Sang Hyang Widi. Dengan adanya upacara ini, masyarakat sekitar meminta
panen yang melimpah dan kesembuhan untuk segala macam penyakit. Di sisi lain,
mereka memberikan persembahan kepada dewa yang dilempar ke kawah Gunung Bromo.
Pada saat
upacara ini berlangsung masyarakat suku tengger berkumpul dengan membawa hasil
bumi, ternak peliharaan dan ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang
bernama ongkek. Pada saat sudah mencapai di kawah gunung Bromo, seluruh sesaji
tersebut dilemparkan ke tempat tersebut. Adapun upacara ini merupakan jalan
ujian bagi pulun mulenen atau dukun baru untuk disahkan sebagai dukun, jika
dukun baru keliru dalam melaksanakan proses upacara Kasada maka dukun tersebut
gagal menjadi dukun. Upacara Kasada sebagai peringatan pengorbanan Raden Kusuma
merupakan penghormatan kepada Raden Kusuma yang rela berkorban untuk
keselamatan masyarakat tengger. Dalam legenda upacara Kasada di Gunung Bromo
terdapat mahkluk halus yang tidak memiliki nama akan tetapi dipanggil Sang Yang
Widi yang digambarkan sebagai asal-usulnya dari kerajaan Majapahit sebelum
keturunan kerajaan Hindu-Budha di Jawa.
Ada perjanjian antara roh Dewa Kusuma dengan
masyarakat Tengger yang harus memberi sesajian setiap tanggal 14 bulan Kasada. Dalam
upacara Kasada masyarakat Tengger terdapat beberapa tahapan upacara yang harus
dilaksanakan agar upacara Kasada berlangsung dengan khidmat yaitu Puja purkawa,
Manggala upacara, Ngulat umat, Tri sandiya, Muspa, Pembagian bija, Diksa widhi,
Penyerahan sesaji di kawah Bromo. Proses berjalannya upacara Kasada dimulai
pada Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja dimana seluruh masyarakat
Tengger menuju Gunung Bromo untuk menyampaikan korban. Upacara Kasada dimulai
dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka
Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Tepat pada pukul 24.00 diadakan
pelantikan dukun dan pemberkatan masyarakat di lautan pasir Gunung Bromo.
Bagi masyarakat Tengger, dukun merupakan pemimpin
dalam bidang keagamaan yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkawinan
dll. Pada saat ini sebelum dukun dilantik, para dukun harus lulus ujian dengan
cara menghafal dan membacakan mantra-mantra. Setelah selesai upacara, ongkek
yang berisi sesaji dikorbankan di Puden Cemara Lawang dan kawah Gunung Bromo.
Seluruh ongkek tersebut dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan
yang dilakukan nenek moyang mereka. Upacara Kasada Bromo sendiri telah digelar
sejak masa Kerajaan Majapahit dan Gunung Bromo memang dianggap sebagai tempat
suci. Gunung Bromo berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti brahma atau
seorang dewa yang utama.
Pada masa Dinasti Brawijaya, permaisurinya
dikaruniai anak perempuan bernama Roro Anteng. Setelah beranjak dewasa putri
ini menikah dengan seorang pemuda dari Kasta Brahmana bernama Joko Seger.
Keduanya kemudian memutuskan tinggal dan menjadi penguasa di Tengger saat
Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dan pengaruh Islam semakin kuat di
Pulau Jawa. Setelah sekian lama hidup bersama, mereka sangat bersedih karena
belum juga dikaruniai anak. Akhirnya mereka pun bersemedi di puncak Gunung
Bromo dan mendapatkan petunjuk bahwa permintaan mereka akan dikabulkan dengan
syarat anak bungsu mereka setelah lahir harus dikorbankan ke kawah Gunung
Bromo. Setelah dikaruniai 25 orang anak, tiba saatnya pasangan ini harus
mengorbankan si bungsu, mereka tidak tega melakukannya.
Akhirnya, Dewa marah dan membawa anak bungsu tersebut
masuk ke kawah Bromo. Timbul suara dari si anak bungsu agar orang tua mereka
hidup tenang beserta saudara-saudaranya. Untuk menghormati pengorbanan tersebut
maka setiap tahun dilakukan upacara sesaji ke Kawah Bromo dan terus berlangsung
secara turun menurun hingga saat ini.Upacara Kasada Masyarakat Tengger telah
membawa manfaat bagi masyarakat tengger. Selain untuk meminta keselamatan,
upacara ini mampu menyedot banyak perhatian seluruh kalangan masyarakat. Ada
nilai politik dalam upacara Kasada ini dimana upacara Kasada merupakan upacara
yang juga bertujuan untuk menancapkan kekuatan politik di daerah tersebut. Pada
saat ini upacara kasada masih dilestarikan oleh suku tengger.
SUMBER
Rahimsyah, Dongeng Rakyat
Nusantara. Surabaya : Greisinda Press, 2003
0 komentar:
Posting Komentar