Kamis, 22 Januari 2015

TAHAPAN BANGSA INDONESIA MENCAPAI BANGSA YANG BERMARTABAT



TAHAPAN BANGSA INDONESIA MENCAPAI BANGSA YANG BERMARTABAT
            Merdeka secara etimologis berasal dari bahasa kawi “maharddhika”, yang berarti rahib/biku atau sangat alim. Dalam system social umat budha, biku ada pada posisi terhormat dengan derajat yang sangat tinggi. Posisi itu diraih dari hasil pengasingannya dari belenggu kemewahan dunia dan komitmen dalam melayani tuhan dan masyarakat sepenuh hati. Dengan demikian, kata merdeka mengandung arti sesuatu atau orang yang memiliki kedudukan mulia atau terhormat. Dalam perspektif ini, kemerdekaan adalah hasil perjuangan. Kemuliaan hidup adalah hasil dari jihad terutama melawan kepentingan syahwat pribadi. Insan merdeka adalah individu yang berhasil mensucikan diri, menjunjung tinggi etika dan kebebasan berpikir, serta berani menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan  keadilan. Insan merdeka bekerja membebaskan kekuasaan dan lembaga peradilan dari belenggu syahwat ragawi. Syahwat yang berpusat pada hasrat berkuasa, kepentingan ekonomi dan seksualitas, meskipun banyak suara-suara negative yang mengancam. Memerdekan manusia dari belenggu syahwat ragawi dilakukan dengan mencerdaskan akal dan menjernihkan hati. Setiap manusia terlahir merdeka.
              Watak manusia cenderung pada kebebasan, keadilan, kebaikan dan keindahan Nurani manusia membenci kezaliman, kejahatan, keburukan dan kebusukan. Namun dalam diri manusia juga terdapat dorongan-dorongan hawa nafsu yang berpusat pada pemenuhan kebutuhan ekonomi.  Jika hawa nafsu tanpa bimbingan akal dan ilmu maka perilaku manusia cenderung kearah gaya hidup flamboyan yang hedonis dan jahat, serakah dan merusak sehingga manusia terjelembab dalam kesesatan. Dalam sejarah agama dikenal tokoh Qarun, Fir’aun, Haman dan Tsa’labah yang tenggelam dalam kemewahan dan diperbudak dunia. Mereka dijangkit watak serakah yakni keinginan subjektif yang tak terbatas, sehingga pertambahan pendapat tidak menambah kebahagiaan. Pada orang kaya seperti Qarun dan Tsa’labah, pencarian kekayaan, kesenangan, dan barang-barang menjadi kegiatan paling utama bagian dari tindakan neurosis memperturutkan “ insting predator” dalam persaingan usaha tidak sehat. Jadi kita tidak boleh meniru prbuatan mereka. Selain itu, musuh utama kita adalah kebodohan, kemiskinan, dan keberpenyakitan maka dari itu untuk melawan tiga hal tersebut harus disertai dengan pendidikan dan juga untuk mencapai kata merdeka dimulai dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengendalikan  hawa nafsu, lalu mengembangkan keberanian dan kemudian akal akan menuntunnya menuju kebijaksanaan dan mencapai kemerdekaan itu sendiri yang bebas dari segala macam kejahatan dan hawa nafsu.  
             setelah merdeka terpenuhi baru kita mencapai bangsa yang bersatu. Secara teologis, islam berkontribusi dalam menumbuhkan rasa kebangsaan. Al Qur’an menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Keintiman laki-laki dan perempuan dewasa itu menciptakan perkawinan, keluarga, suku dan bangsa. Masing-masing suku bangsa memiliki cirri khas, warna kulit, bahasa, tradisi dan kebudayaan. Kebudayaan adiluhung suatu bangsa lahir dari individu merdeka yang diasuh keluarga sakinah dan dibesarkan dalam kehidupan.kebangsaan yang bebas. Dari segi tempat, persatuan Indonesia dibangun di atas landasan kesatuan wilayah, yakni persatuan tanah air. Kesatuan bangsa Indonesia semakin kuat dengan deklarasi Djuanda. Tepat pada tanggal 13 Desember 1957, pemerintahan RI dibawah kepemimpinan perdana menteri Ir. Djuanda mendeklarasikan diri sebagai Negara kepulauan. Selain itu dengan kemajemukan bangsa indonesia yang dibutuhkan adalah komitmen bersama untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tanpa menghapuskan bahasa daerah yang menyebabkan warga Negara kehilangan asal usul atau tercabut dari akar budaya daerahnya. Bahkan bahasa daerah sebagaimana bahasa arab dan bahasa internasional lainnya diharapkan dapat memperkaya perbendaharaan bahasa persatuan Indonesia.
                 Persatuan Indonesia berdasarkan pada kesatuan watak dan tempat yakni wawasan nusantara. Islam berkontribusi besar dalam menciptakan persatuan itu melalui bahasa, ideologi pancasila, perdagangan antar pulau, toleransi beragama, dan kesediaan rela berkorban untuk berjihad melawan penjajah yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.  Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan beranekaragam budaya (multikultur) namun nilai-nilai luhurnya sama yakni adil dan beradab, persaudaraan dan gotong royong. Kerukunan ini dibangun atas dasar semangat persaudaraan, gotongroyong, dan keadilan yang dikelola dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika” dan “Negara Kesatuan Republik Indonesia” sebagaimana mosi natsir tertanggal 3 April 1950. Perbedaan tersebut memungkinkan lahirnya inovasi dan kreatifitas dalam mewujudkan cita-cita bersama yang tertuang dalam konstitusi, UUD 1945. Dalam berhubungan antar Negara bangsa rasa kebangsaan tidak boleh memicu permusuhan dan kebencian terhadap bangsa lain. Kita sebagai bangsa yang anti penjajah menumbuhkan sikap terbuka terhadap bangsa-bangsa lain untuk menciptakan perdamaian dan kemakmuran sejagat yang berkeadilan dan untuk terciptanya persatuan.
            Setelah bangsa Indonesia bersatu terbentuklah Negara yang berdaulat. Kata NEGARA telah lazim digunakan dalam khazanah politik orang Indonesia asli. Secara umum, Negara merupakan integrasi dari kekuatan politik karena adanya kesatuan watak dan tempat. Indonesia adalah Negara bangsa yang terdiri dari berbagai suku bangsa, tradisi, budaya, bahasa, dan agama, yang satu sama lain bersepakat untuk hidup bersma secara harmonis dan damai. Ikatan persatuan bangsa Indonesia adalah kesamaan watak, nasib dan penderitaan akibat dijajah Belanda dan kesatuan geopolitik yang disebut wawasan nusantara.  Dalam Negara ada unsure penduduk dan wilayah serta konstitusi dan pemerintahan yang berdaulat. Tentu saja keberadaan suatu Negara juga membutuhkan pengakuan Negara lain dalam pergaulan bangsa-bangsa. Negara kuat karena rakyatnya berdaulat. Bukan hanya sekelompok elite politik, kaum bangsawan atau minoritas pemilik modal yang mnguasai pasar yang berdaulat. Kedaulatan rakyat bagi bangsa Indonesia adalah kekuasaan yang dijalankan oleh rakyat atau atas nama rakyat dengan dasar musyawarah. Dalam permusyawaratan itu, aspirasi yang berkembang dalam alam pikiran rakyat diseleksi dan diuji melalui perdebatan yang arguemtatif, jujur dan terbuka.  Musyawarah yang terbuka yang melibatkan partisipasi warga itu penting untuk menjamin agar keputusan politik berorientasi pada keadilan social dan kepentingan umum.
            Dalam Al Qur’an musyawarah digunakan untuk mencapai mufakat dalam pengasuhan anak, khususnya dalam hal penyapihan dan pemberian air susu ibu (Qs.Al Baqarah: 233), masalah taktik dan strategi perang (Qs. Alu Imran: 159), dan kebijakan manusia termasuk kebijakan public (Qs. Asy-Syura: 38).  Hasil keputusan harus mengacu pada dan tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits. Negara berdaulat itu memberikan rasa yang aman kepada rakyat, memajukan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui system pendidikan nasional yang berkualitas dan terjangkau dan dapat menciptakan perdamaian dunia melalui politik luar negeri” bebas aktif”.
            Setelah Negara merdeka, bersatu dan beraulat tercapai barulah bangsa Indonesia mencapai masyarakat yang adil.  Kata “adil” dalam pembukaan UUD 1945 diulang lima kali. Pada alinea I  dinyatakan “ peri keadilan “ sebagai lawan dari penjajah yang zalim. Pada alinea II dinyatakan adil dan makmur sebagai cita Negara bangsa yang akan dibangun diatas landasan Negara merdeka, bersatu, berdaulat. Pada alinea IV adil dinyatakan tiga kali, yaitu, yakni dalam konteks haluan politik luar negeri dalam pergaulan keluarga besar antar bangsa, menciptakan perdamaian dunia, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan dalam negeri mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, adil dalam penyelesaian masalah itu artinya tidak berat sebelah, berpihak pda kebenaran, dan patut atau tidak sewenang-wenang. Adil hanya dapat dilakukan oleh individu dan  system kekuasaan kehakiman yang merdeka dan sanggup menempatkan diri dalam kesadaran kolektif, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hakim yang adil selalu mendasarkan putusannya pada hukum tertulis Al kitab dan konstitusi dalam konteks bermasyarakat yang dinamis, sehingga terbebas dari belenggung nafsu dan kejumudan. Disinilah hakim secara umum memerlukan petunjuk Allah SWT melalui istikhoroh dan pertimbangan manusia melalui musyawarah. Keadilan harus ditegakkan dalam segala bidang, termasuk dalam kehidupan pribadi dalam beribadah kepada Allah SWT, berinteraksi dengan dirinya sendiri dan keluarga dalam interaksi bisnis. Dalam kehidupan politik keadilan diwujudkan dalam bentuk partisipasi aktif memilih pemimpin dan proses penetapan kebijakan public. Di antara perkara krusial dalam penegakkan keadilan adalah masalah hukum.  
             Dalam UUD 1945 dinyatakan persamaan hak warga Negara, antara lain pada pasal 27 bahwa “ segala warga Negara bersamaan kedududkannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Keadilan hukum tidak bisa dipisahkan dari keadilan politik dan pemerintahan. Meskipun lembaga peradlan bersifat independen, dalam praktek keadilan hanya bisa ditegakkan oleh insane merdeka yang memiliki integrritas watak dan tidak mudah dipengaruhi oleh suap. Keadilan dimulai dengan menumbuhsuburkan aspek-aspek akidah adalah etika pada tiap-tiap pribadi, karena dari diri pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat seimbang. Keadilan muncul dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Maka dari itu keadilan dapat terbentuk.
             Dari Merdeka, bersatu, berdaulat, adil bisa terbentuk bangsa yang makmur. Kemakmuran rakyat yang didambakan Al Qur’an tecermin dari surga yang dihuni oleh Adam dan isrinya, sesaat sebelum turunnya mereka melaksanakan tugas kekhalifahan dibumi. Seperti telah diketahui, sebelum Nabi Adam dan istrinya diperintahkan dibumi mereka terlebih dahulu ditempatkan di surga. Kemakmuran surgawi sudah ada dalam memori setiap batin anak cucu Adam. Karena itu, kemakmuran menjadi arah  pembangunan dan pengabdian anak cucu Adam dibumi, sebagaimana abayang-bayang surga dalam alam pikiran Adam dan Hawa yang kelak menjadi dihuninya secara hakiki di akhirat. Kita menyebut masyarakat bayang- bayang surga itu di dunia ini sebagai “ masyarakat adil-makmur”. Kemakmuran Negara dapat dilihat dari tingkat daya beli masyarakat, pendidikan yang membebaskan dan layanan kesehatan gratis yang menjangkau masyarakat . Negara yang makmur bukan berarti ridak ada yang miskin. Orang miskin di Negara makmur bermartabat karena memperoleh jaminan dari Negara, pemerintah dan masyarakat yang mampu.
             Apabila masyarakat tidak menunaikan kewajiban social itu secara sukarela dan juga tidak menggalangkan amal untuk memperhatikan orang-orang fakir, maka pemerinah lah yang mewajibkan kepada orang kaya di daerah itu untuk mencukupi kebutuhan fakir miskin. Misalnya, pemerintah dapat memaksa perusahaan mengalokasikan anggaran CSR untuk pelayanan social, pembangunan fasilitas umum atau pelestarian lingkungan hidup. Al Qur’an juga menetapkan adanya kewajiban zakat dan  infak untuk membantu karib kerabat, anak-anak yatim, dan sebagainya. Zakat merupakan kewajiban orang kaya dan hak fakir yang bersifat rutin, teteap, dan  pasti. Sedangkan infak lebih bersifat fleksibel dan situasional, tidak ada batas tertentu dan tidak pula waktu tertentu. Dengan begitu kebutuhan fakir miskin dapat terpenuhi dan  Negara tersebut menjadi  makmur. Setelah semuanya tercapai barulah terbentuk bangsa yang bermartabat karena sudah memenuhi beberapa kriteria yaitu: merdeka, bangsa bersatu, Negara berdaulat, adil dan rakyat makmur kelima kriteria tersebut mempengarui bangsaa yang bermartabat maka dari itu seharusnya masyarakat harus berpartisipasi dalam pembentukan bangsa yang bermartabat.

SUMBER

Fadlullah, Kontribusi Islam Membentuk Watak dan Kepribadian Bangsa Indonesia, Jakarta: Diadit Media,2011

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates