ASAL MULA
RAMPAK BEDUG
Rampak Bedug merupakan penampilan
bedug yang di lakukan secara bersamaan dan pukulannya sama. Awalnya tarian ini di
ambil dari pengetahuan tentang kentong. Di Banten, setiap datangnya waktu
sholat, mereka menabuh kentongan. Suaranya itu menandakan bahwa waktu sholat
telah tiba. Kemudian berubah dengan tabuhan bedug. Daru sinilah, ada orang yang
terinspirasi untuk membuat kreasi dari tabuhan bedug ini. Kemudian orang-orang
ini pun membuat gerakan yang sama untuk menabuh bedug.
Awalnya tari rampak bedug ini di sebut dengan bedug panjang. Karena
jumlahnya bisa mencapai 20 bedug yang di gerakan secara bersama-sama dengan
irama tertentu. Oleh karena itu banyak orang yang suka menikmati irama tabuhan
ini. Para penbuh bedug ini memakai pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan
dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Penari laki-laki memakai
pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten yang berwarna hijau, ungu,
merah, dan lain-lain.
Rampak
bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari
Raya Idul Fitri, persis seperti seni ngabedug atau ngadulag. Tapi karena
merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka
seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual, sama dengan
seni-seni musik komersial lainnya. Walau para pencetus dan pemainnya lebih
didasari oleh motivasi religi, tapi masyarakat seniman dan pencipta seni
memandang seni rampak bedug sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai. Fungsi
Rampak bedug adalah menyemarakan bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang
memang dirancang para ulama pewaris Nabi. Selain menyemarakan Tarawihan juga
sebagai pengiring Takbiran dan Marhabaan, sebagai rekreasi/hiburan, serta suatu
karya seni yang layak jual. Masyarakat pengguna sudah biasa mengundang seniman
rampak bedug untuk memeriahkan acara-acara mereka.
Rampak Bedug” dapat dikatakan sebagai
pengembangan dari seni bedug atau ngadulag. Bila ngabedug dapat dimainkan oleh
siapa saja, maka “Rampak Bedug” hanya bisa dimainkan oleh para pemain profesional.
Rampak bedug bukan hanya dimainkan di bulan Ramadhan, tapi dimainkan juga
secara profesional pada acara-acara hajatan (hitanan, pernikahan) dan hari-hari
peringatan kedaerahan bahkan nasional. Rampak bedug merupakan pengiring
Takbiran, Ruwatan, Marhabaan, Shalawatan (Shalawat Badar), dan lagu-lagu
bernuansa religi lainnya.
Di masa lalu pemain rampak bedug terdiri dari
semuanya laki-laki. Tapi sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya
terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mungkin demikian karena seni rampak bedug
mempertunjukkan tarian-tarian yang terlihat indah jika ditampilkan oleh
perempuan (selain tentunya laki-laki). Jumlah pemain sekitar 10 orang,
laki-laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing-masing pemain
adalah sebagai berikut pemain laki-laki sebagai penabuh bedug dan sekaligus
kendang sedangkan pemain perempuan sebagai penabuh bedug, baik pemain laki-laki
maupun perempuan sekaligus juga sebagai penari.
Busana yang dipakai oleh pemain rampak
bedug adalah pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan
zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model
pesilat lengkap dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan
kemoderenan: hijau, ungu, merah, dan lain-lain (bukan hitam atau putih saja).
Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi
bercorak kemoderenan dan relatif religius. Misalnya menggunakan rok panjang
bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar kuning dan di dalamnya mengenakan
celana panjang warna merah jenis celana panjang pesilat. Di Luarnya mengenakan
kain merah tanpa dijahit yang bisa dililitkan dan digunakakan untuk semacam
tarian selendang. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan
memakai ikat pinggang besar. Adapun rambutnya mengenakan sejenis sanggul bungan
yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.
Sejarah awal Rampak Bedug Tahun 1950-an
merupakan awal mula diadakannya pentas rampak bedug. Pada waktu itu, di
Kecamatan Pandeglang pada khususnya, sudah diadakan pertandingan antar kampung.
Sampai tahun 1960 rampak bedug masih merupakan hiburan rakyat, persis ngabedug.
Awalnya rampak bedug berdiri di Kecamatan Pandeglang. Kemudian seni ini
menyebar ke daerah-daerah sekitarnya hingga ke Kabupaten Serang. Kemudian
antara tahun 1960-1970 Haji Ilen menciptakan suatu tarian kreatif dalam seni
rampak bedug. Rampak bedug yang berkembang saat ini dapat dikatakan sebagai
hasil kreasi Haji Ilen. Rampak bedug kemudian dikembangkan oleh berempat yaitu
: Haji Ilen, Burhata, Juju, dan Rahmat. Dengan demikian Haji Ilen beserta
ketiga bersahabat itulah yang dapat dikatakan sebagai tokoh seni Rampak bedug.
Dari mereka berempat itulah seni rampak bedug menyebar. Hingga akhir tahun 2002
ini sudah banyak kelompok-kelompok pemain rampak bedug.
SUMBER
1 komentar:
jual bedug
jual bedug masjid
pengrajin bedug
harga bedug
harga bedug masjid
Posting Komentar