ASAL MULA KERATON YOGYAKARTA
Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya Karaton
Kasultanan Ngayogyakarta merupakan tempat tinggal resmi para Sultan yang
bertahta di Kesultanan Yogyakarta. Karaton artinya tempat dimana
"Ratu" (bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja) bersemayam.
Dalam kata lain Keraton/Karaton (bentuk singkat dari Ke-ratu-an/Ka-ratu-an)
merupakan tempat kediaman resmi/Istana para Raja. Artinya yang sama juga
ditunjukkan dengan kata Kedaton. Kata Kedaton (bentuk singkat dari
Ke-datu-an/Ka-datu-an) berasal dari kata "Datu" yang dalam bahasa
Indonesia berarti Raja. Dalam pembelajaran tentang budaya Jawa, arti ini
mempunyai arti filosofis yang sangat dalam.
Keraton Yogyakarta tidak didirikan begitu saja.
Banyak arti dan makna filosofis yang terdapat di seputar dan sekitar keraton.
Selain itu istana Sultan Yogyakarta ini juga diselubungi oleh mitos dan mistik
yang begitu kental. Filosofi dan mitologi tersebut tidak dapat dipisahkan dan
merupakan dua sisi dari sebuah mata uang yang bernama keraton. Penataan tata
ruang keraton, termasuk pula pola dasar landscape kota tua Yogyakarta,
nama-nama yang dipergunakan, bentuk arsitektur dan arah hadap bangunan,
benda-benda tertentu dan lain sebagainya masing-masing memiliki nilai filosofi
dan/atau mitologinya sendiri-sendiri. KRATON Yogyakarta dibangun tahun 1756
Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar
Sri Sultan Hamengku Buwono I. Setelah melalui perjuangan panjang antara
1747-1755 yang berakhir dengan Perjanjian Gianti. Sebelum menempati Kraton
Yogyakarta yang ada saat ini, Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Sri Sultan
Hemengku Buwono Senopati Ingalogo Ngabdulrahman Sayidin Panotogomo Kalifatullah
tinggal di Ambar Ketawang Gamping, Sleman. Lima kilometer di sebelah barat
Kraton Yogyakarta. Dari Ambar Ketawang Ngarso Dalem menentukan ibukota
Kerajaan Mataram di Desa Pacetokan. Sebuah wilayah yang diapit dua sungai yaitu
sungai Winongo dan Code. Lokasi ini berada dalam satu garis imajiner Laut
Selatan, Krapyak, Kraton, dan Gunung Merapi. Bangunan Kraton Yogyakarta
sedikitnya terdiri tujuh bangsal.
Masing-masing bangsal dibatasi dengan regol atau
pintu masuk. Keenam regol adalah Regol Brojonolo, Sri Manganti, Danapratopo,
Kemagangan, Gadungmlati, dan Kemandungan. Kraton diapit dua alun-alun yaitu
Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukurang
kurang lebih 100x100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Kraton Yogyakarta
berdiri di atas tanah 1,5 km persegi. Bangunan
inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur
sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu
gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung
Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton. Plengkung
Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya. Plengkung Joyoboyo atau
Plengkung Tamansari di sebelah Barat. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading
di sebelah Selatan. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah
Timur. Dalam benteng, khususnya yang
berada di sebelah selatan dilengkapi jalan kecil yang berfungsi untuk
mobilisasi prajurit dan persenjataan. Keempat sudut benteng dibuat bastion yang
dilengkapi dengan lubang kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh. Penjaga
benteng diserahkan pada prajurit kraton di antaranya, Prajurit Jogokaryo,
Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Bugis. Prajurit Jogokaryo mempunyai bendera
Papasan dan tinggal di Kampung Jogokaryan. Prajurit Mantrijero dilengkapi
dengan Bendera Kesatuan Purnomosidi dan tinggal di Kampung Mantrijeron.
Prajurit Bugis yang berbendera Kesatuan Wulandari tinggal di Kampung Bugisan. Masa
pemerintahan Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I (GRM Sujono)
memerintah tahun 1755-1792. Sri Sultan
Hamengku Buwono II (GRM Sundoro) memerintah tahun 1792-1812. Sri Sultan
Hamengku Buwono III (GRM Surojo) memimpin tahun 1812-1814. Sri Sultan Hamengku
Buwono IV (GRM Ibnu Djarot) memerintah tahun 1814-1823. Sri Sultan Hamengku
Buwono V (GRM Gathot Menol) memerintah tahun 1823-1855. Sri Sultan Hamengku
Buwono VI (GRM Mustojo) memerintah tahun 1855-1877. Sri Sultan Hamengku Buwono
VII (GRM Murtedjo) memerintah tahun 1877-1921. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII
(GRM Sudjadi) memerintah tahun 1921-1939. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (GRM
Dorojatun) memimpin tahun 1940-1988. Sri Sultan Hamengku Buwono X (GRM Hardjuno
Darpito) memimpin tahun 1989 - sekarang.
SUMBER
SUMBER
0 komentar:
Posting Komentar